Senin, 02 Mei 2011

Ciptakan Batubara Ramah Lingkungan

KOMPAS.com - Di tengah kebuntuan memenuhi permintaan energi yang makin meningkat, teknologi Geo Coal muncul. Teknologi tersebut mampu mengubah batubara peringkat rendah (low rank coal) yang kini kurang dimanfaatkan menjadi sumber energi yang murah, efisien, sekaligus lebih ramah lingkungan.
Teknologi Geo Coal ini dikembangkan oleh Ir Harsudi Supandi, peneliti energi sekaligus Presiden Direktur Total Synergy International (TSI). Peluncuran teknologi yang kini telah memasuki proses paten tersebut dilakukan hari ini, Rabu (20/4/2011), di Grand Hyatt Hotel, Jakarta.
Harsudi mengungkapkan, ada dua jenis batubara. Jenis pertama adalah batubara peringkat tinggi (high rank coal) yang punya kandungan air rendah, konten energi tinggi, kalori tinggi dan lebih efisien dalam pembakaran. "Jenis batubara inilah yang sekarang dimanfaatkan," kata Harsudi.
Jenis kedua adalah batubara peringkat rendah. Batubara jenis ini memiliki kadar air tinggi atau hampir 80 persen, konten energi dan kalori yang rendah dan kurang efisien. Jenis low rank coal biasanya lunak, mudah pecah atau rekah, mudah menjadi bubuk dan mudah habis terbakar tak terkendali.
Sepintas, mengolah batubara peringkat rendah seperti tak berprospek. Namun, bila ditilik lagi, batubara peringkat rendah ternyata punya kelebihan. Jumlah batubara peringkat rendah masih melimpah dan memiliki kandungan sulfur dan abu yang rendah.
"Kalau itu bisa dimanfaatkan, nilai gunanya bisa tinggi," cetus Harsudi. Menurut Harsudi, kini berbagai negara berlomba untuk meng-upgrade batubara tingkat rendah sehingga bisa dimanfaatkan, terutama karena menipisnya cadangan minyak dan kekhawatiran akan energi nuklir.
Teknologi Geo Coal yang dikembangkan Harsudi pada dasarnya merupakan proses meningkatkan kalori batubara peringkat rendah. Proses peningkatan tersebut dilakukan melalui beberapa tahap, meliputi persiapan, penghancuran batubara, pengeringan, setting, dan berakhir dengan pendinginan.
Dalam proses penghancuran, batubara diubah menjadi ukuran lebih kecil, antara 5-50 cm. Sementara, pada proses pengeringan, kadar air dalam batubara peringat rendah dikurangi dengan menggunakan gassification burner. Setelah proses ini, dikatakan kadar air bisa berkurang 60-80 persen.
"Proses selanjutnya, yaitu setting, adalah inti dari proses upgrading ini," kata Harsudi. Dalam proses ini, dilakukan modifikasi gabungan dari Hardgrove Grindability Index (HGI), konten materi yang mudah terbakar dan debu atau ash dari batubara.
Harsudi mengatakan, teknologi Geo Coal mampu meningkatkan kalori batubara hingga 50-100 persen. Selain itu, proses upgrading yang dilakukan juga bisa mempertahankan kadar sulfur dan ash tetap rendah sehingga batubara yang dihasilkan nantinya lebih ramah lingkungan.
Teknologi Geo Coal yang dikembangkan berbeda dengan proses upgrading lain, seperti UBC (Upgrade Brown Coal). Harsudi mengatakan, "Kalau UBC itu kan intinya pada pengeringan dan briket. Sementara kalau Geo Coal ini intinya pada pengeringan dan setting."
Dengan Geo Coal, upgrading batubara lebih efisien. "Ongkosnya itu hanya 10 juta dollar per ton produk. Rational cost-nya 4-5 dollar per ton produk dalam skala besar. Bisa dibandingkan sendiri kalau UBC berapa," jelas Harsudi yang sebelumnya juga menciptakan teknologi gassification burner.
Geo coal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi lain. "Produknya lebih ramah lingkungan. Batubara peringkat tinggi itu kandungan sulfurnya sampai 12 persen, sementara peringkat rendah itu kurang jadi 1 persen. Jadi ini low polluting," ungkapnya.
Teknologi tersebut juga tak terbatas pada upgrading batubara, tetapi juga untuk biomass, bambu, kayu dan bahkan sampah. Dengan pengurangan kadar air, biaya transportasi yang dibutuhkan juga lebih rendah. Dan paling penting, teknologi ini jauh lebih murah.
Saat ini, TSI sudah menandatangani kerjasama dengan PLN untuk menggunakan Geo Coal di salah satu pembangkit tenaga listriknya di Banten. TSI juga bersepakat dengan Agritrade Resources Limited untuk membangun pabrik komersil Geo Coal berkapasitas 500.000 metrik ton per tahun di lokasi Tamiang Layang, Kalimantan Tengah Juni 2011.
Harsudi mengatakan, pengembangan Geo Coal merupakan solusi ketika energi minyak menipis dan energi terbarukan belum bisa diandalkan. Teknologi tersebut juga mendukung pengadaan sumber energi murah sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.

Misteri Cahaya Hijau Di Permukaan Bulan



Cahaya hijau yang terekam di permukaan bulan mungkin hasil pembiasan sinar Matahari di atmosfernya



KOMPAS.com - Gerhard Hüdepohl yang mengurusi citra rekaman foto ruang angkasa di European Southern Observatory (ESO) merekam pancaran sinar hijau dari Bulan. Sinar apakah itu?
Gerhard berhasil mengabadikan fenomena tersebut dalam gambar yang terdiri dari beberapa foto. Ia mendapati pancaran sinar hijau di Bulan saat kondisi pagi sedang cerah di Paranal Residencia.
Sinar hijau sebetulnya bukan hal yang aneh. Di Cerro Paranal, gunung setinggi 2.600 meter di gurun pasir Atacama, Chili, sinar hijau sering kali tampak pada Matahari yang hendak terbenam. Foto Gerhard mengejutkan karena fenomena yang biasanya didapati pada Matahari ini jarang terjadi pada Bulan.
Sinar hijau itu terjadi karena pembiasan cahaya oleh atmosfer. Atmosfer Bumi membelokkan cahaya. Pembelokan semakin besar pada kondisi atmosfer yang tidak terlalu padat lapisan-lapisannya.
Cahaya dengan panjang gelombang yang pendek dibelokan lebih banyak daripada cahaya yang gelombangnya lebih panjang. Pada posisi Gerhard saat mengambil foto, cahaya hijau dari Matahari atau Bulan yang posisinya sedikit lebih tinggi daripada cahaya jingga dan merah. Pada kondisi yang tepat, pancaran sinar hijau dapat terlihat di pucuk Matahari atau Bulan saat berada di dekat horizon.(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Minggu, 01 Mei 2011

Macam Macam Sensor

1. Sensor Kedekatan
     Yaitu sensor atau sakalar yang dapat mendeteksi adanya target ( jenis logam ) dengan tanpa adanya kontak fisik Sensor jenis ini biasanya terdiri dari alat elektronik solid state yang terbungkus rapat untuk melindunginya dari pengaruh getaran, cairan, kimiawi dan korosif yang berlebihan. Sensor ini dapat dipublikasikan pada kondisi penginderaan pada objek yang dianggap terlalu kecil atau lunak untuk menggerakkan suatu mekanis saklar. Prinsip kerjanya adalah dengan memperhatikan perubahan amplitude suatu lingkungan medan frekuensi tinggi.
2. Sensor Magnet
     Yaitu alat yang akan terpengaruh medan magnet dan akan memberikan perubahan kondisi pada keluaran seperti layaknya saklar dua kondisi ( on/off ) yang digerakkan oleh adanya medan magnet disekitarnya. Biasanya sensor ini dikemas dalam bentuk kemasan yang hampa dan bebas dari debu, kelembaban, asap ataupun uap.
3. Sensor Sinar
     Yaitu sensor yang mengubah energi langsung menjadi energi listrik dengan adanya penyinaran cahaya akan menyebabkan pergerakan elektron dan menghasilkan tegangan.
4. Sensor Ultrasonik
     Yaitu sensor yangm bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara yang kemudian menangkapanya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaannya. Perbedaan waktu berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objekyang memantulnya.
5. Sensor Tekanan
     Yaitu sensor yang memiliki tranducer yang mengukr tegangan kawat, dimana mengubah tegangan mekanis menjadi sinyal listrik. Akan berubah akibat perubahan panjang dan luas penampangnya.

Prinsip Kerja Alat Kendali Putaran motor

Prinsip kerja alat kendali putaran motor adalah mengendalikan putaran motor agar sesuai dengan set point yang dikehendaki. Langkah awal adalah dengan melakukan kalibrasi. Pada waktu motor berputar pada saat itu juga elemen-elemen sistem pengendalian yang ada dalam alat kendali putaran motor akan bekerja. Dasar dari prinsip pengendalian proses adalah mengukur,membandingkan, menghitung, dan mengoreksi. Maka elemen-elemen pengendalan pada alat kendali putaran motor tersebut akan melakukan empat hal tersebut. Pada tahap mengukur elemen yang sangat penting adalah sesing elemen dan transmitter. Sesing elemen akan mengukur besarna signal RPM yang dihasilkan dari motor DC kemudian hasilnya akan diterjemakan oleh transmitter supaya dapat dimengerti controller. Signal yang keluar dari transmitter disebut measurement variabel. Sebelumnya pada bagian controller telah dimasukan data set point yang dikehendaki. Pada bagian controller tersebut terjadi proses menghitung. Selisih antara set point dengan measurement variabel disebut dengan error. Supaya didapat output yang sama atau mendekati dengan set point maka error harus sama dengan nol. Kemudian control unit akan menghtung besarnya koreksi supaya output sesuai dengan set point. Langkah yang terakhir adalah mengoreksi. Signal yang keluar dari controller (manipulated variabel) akan diterjemahkan oleh control RPM sehingga koreksi dapat dilakukan. Setelah dilakukan koreksi maka motor akan berputar mendekati set point yang dikehendaki. Respon yang dihasilkan pada system pengendalian yang baik umumnya adalah overdumped dan underdamped. Proses mengukur, membandingkan, menghitung, dan mengoreksi akan terus dilakukan oleh elemen-elemen pada alat kendali putaran motor sampai didapatkan harga set point yang dikehendaki.